Merangkul yang Sulit Dijangkau
Kampanye memeriksakan diri secara sukarela untuk mencegah HIVjAIDS mulai berlangsung. Kelompok pendamping berperan penting.
Rabu malam pekan lalu tampak lebih singup dari malam biasanya. Erna hanyaduduk termangu di atas becak yang mangkal di jaIan Sungai Serdang, Makassar, Sulawesi Selatan. Sesekali terdengar perempuan berusia 20 tahun ini bercakap dengan Melly, teman sesama berasal dari Bugis, yang duduk di atas jok sepeda motor yang diparkir di sebelah becak.
Kedua perempuan itu sedang menunggu lelaki hidung belang yang membutuhkan jasa mereka. "Saya hanya terima tamu satu-dua orang, sekadar buat belanja besok," kata Erna yang sudah dua tahun menjalani nasib sebagai pekerja seks komersial.
Sebagai pelacur, pengetahuan keduanya tentang risiko pekerjaan mereka agaknya jauh dari memadai, misalnya penyakit HIV / AIDS yang mematikan. "Pernah dengar sih. Penyakit gatal-gatal begitu kan?" ujar Erna.
Karena itu, Erna merasa tak perlu memeriksakan diri ke dokter secara rutin dan menjalani konseling secara suka rela. "Saya toh jarang sakit, paling pusing-pusing. Ke dokter diberi supertetra, amphicillin, lalu sembuh," katanya. Sementara itu, Melly hanya memeriksakan kesehatannya ke seorang bidan saat mesti suntik antihamil.
Lain lagi dengan Rima, 20 tahun, pelacur di kawasan Jarak, Surabaya, yang cuma ketat dalam hal penggunaan kondom. "Saya selalu bilang belum suntik KB, jadi tamu mau tak mau harus pakai," kata gadis asal Malang ini.
Rima tak merasa perlu memeriksakan diri untuk mewaspadai penularan HIV / AIDS. "Paling kalau rasa-rasa nggak enak dilihat dulu sama teman pakai senter, baru ke dokter," ujarnya sambil bersiap menanti pelanggan di sofa besar berpenerangan lampu merah jambu.
Menyadari rendahnya kesadaran kelompok-kelompok yang berisiko terpapar HIV / AIDS, pemerintah di sejumlah daerah giat mengkampanyekan pentingnya pemeriksaan darah dan konseling secara sukarela. Cara itu diyakini lebih efektif ketimbang baru bertindak tatkala pengidap HIV/ AIDS sudah dalam stadium lanjut.
Maklum, dari tahun ke tahun, jumlah pengidap penyakit itu bertambah dengan pesat. Di Surabaya, misalnya, pada 2004 tercatat 104 pengidap AIDS dan 217 pengidap HIV. Tahun berikutnya tercatat ada 135 pengidap AIDS dan 175 pengidap HIV. Sedangkan di Sulawesi Selatan, pengidap penyakit maut tersebut mencapai 541 orang.
Angka itu pun dinilai belum sesuai dengan kenyataan. "Ada fenomena gunung es, kenyataannya bisa lebih besar dari angka tersebut," kata Dr Gaguk Septijo W., Kepala Laboratorium Dinas Kesehatan Surabaya.
Untuk mencegah penularan virus mematikan itu, sudah ada empat pusat pemeriksaan dan konseling sukarela di empat rumah sakit terbesar di Surabaya. Di sana mereka yang merasa berisiko terjangkit HIV / AIDS bisa langsung mendapatkan tes CD4 atau uji darah untuk mengukur kadar sistem kekebalan tubuh.
Di Makassar, Klinik Voluntary and Counseling Test (VCT) berada di empat rumah sakit besar dan satu puskesmas. "Intinya memang untuk mereka yang mungkin kesulitan biaya kalau harus ke rumah sakit besar," kata Andi Herry Iskandar, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah sekaligus Wakil Wali Kota Makassar.
Menjangkau mereka yang berisiko tinggi seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, waria atau siapa pun-memang tak gampang. Ketertutupan, stigma yang terlanjur terpatri pada mereka, serta diskriminasi yang mereka terima dari masyarakat, menjadi tembok besar penghalang.
Maka, diperlukan terobosan. Salah satunya dengan memanfaatkan orang yang dekat dengan dunia mereka. Di Surabaya, misalnya, ada Jenny. Waria berusia 40 tahun yang bernama asli Jinal ini boleh disebut orang yang berjiwa besar. Sejak didiagnosis mengidap HIV, Jenny memilih untuk menjadi pendamping teman-temannya sesama waria.
Mereka yang belum paham didorongnya untuk memeriksakan diri dan lebih waspada. Buat yang telanjur terjangkit diajaknya bersabar dan menerima kondisi apa adanya. "Hidup ini apa tho, Mbak? Kalau memang sudah telanjur terjangkit, ya, harus berupaya untuk sembuh, setidaknya minum obat dengan teratur," kata Jenny yang justru merasa hidupnya lebih teratur dan berarti sejak didiagnosis mengidap HIV.
Ada pula sosok Lilik Sulistyowati. Wanita yang akrab dipanggil Fera ini mengetuai Yayasan Abdi Asih di Surabaya. Lembaganya memilih mendampingi kelompok pekerja seks di lokalisasi, Jarak, Surabaya. Sejak 2001, ia juga menyediakan rumah singgah untuk pekerja seks di bawah umur yang ketahuan bekerja di lokalisasi.
Sekarang mereka ikut memasyarakatkan konseling untuk mencegah HIV / AIDS, terutama setelah beberapa kali menangani para pengidap penyakit maut hingga meninggal, yang mendapat perlakukan tak manusiawi dari lingkungannya. Pendekatan mereka sangat informal. " Saya sering mengajak mereka memeriksakan diri sambil menemani berdandan sebelum menerima tamu," kata Fera.
Di Makassar, sejumlah lembaga swadaya masyarakat bergerak mendampingi I orang dengan HIV/AIDS (ODHA) secara lebih spesifik. "Masing-masing memiliki kelompok berisiko sendiri sebagai target," kata Zulkifti Amin, pendiri Kelompok Relawan Antisipasi AIDS Sulawesi Selatan, yang kerap berhubungan dengan kelompok pekerja seks dan waria.
sumber: Majalah Tempo, 2 April 2006





